#SIP Pengertian Informasi dan Sistem Informasi Psikologi

Informasi
Informasi adalah data yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi penerimanya. Sumber informasi adalah data. Data kenyataan yang menggambarkan suatu kejadian-kejadian dan kesatuan nyata. Menurut Gordon B. Davis, informasi adalah data yang telah diolah menjadi suatu bentuk yang penting bagi si penerima dan mempunyai nilai yang nyata yang dapat dirasakan dalam keputusan – keputusan yang akan datang. 

Fungsi informasi
Fungsi informasi adalah sebagai menambah pengetahuan atau mengurangi ketidakpastian pemakai informasi, karena informasi berguna memberikan gambaran tentang suatu permasalahan sehingga pengambil keputusan dapat menentukan keputusan lebih cepat. Informasi juga memberikan standard, aturan, maupun indikator bagi pengambil keputusan.



Sistem Informasi
Sistem informasi adalah suatu sistem di dalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengelolaan transaksi harian, mendukung operasi, bersifat manajerial, dan kegiatan strategi dari suatu organisasi dan menyediakan pihak luar tertentu dengan laporan-laporan yang dibutuhkan.


Komponen sistem informasi
sistem informasi terdiri dari komponen-komponen yang disebut dengan istilah blok bangunan (building block), yaitu:
1. Blok masukan (input block), yaitu input mewakili data yang masuk ke dalam sistem informasi
2. Blok model (model block), yaitu blok ini terdiri dari kombinasi prosedur, logika dan metode matematik yang akan memanipulasi data input dan data yang tersimpan di basis data dengan cara yang sudah tertentu untuk mengahsilkan keluaran yang sudah diinginkan
3. Blok keluaran (output block), yaitu produk dari sistem informasi berupa informasi yang berkualitas dan dokumentasi yang berguna untuk semua tingkatan manajemen serta semua pemakai sistem.
4. Blok teknologi (technology block), terdiri dari teknisi (brainware), perangkat keras (hardware), dan perangkat lunak (software)
5. Blok basis data (data base block), yaitu kumpulan dari data yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya
6. Blok kendali (control block), pengendalian perlu dirancang dan diterapkan untuk meyakinkan bahwa hal-hal yang dapat merusak sistem dapat dicegah.




Sistem Informasi Psikologi
sistem informasi psikologi adalah suatu pemanfaatan media teknologi untuk membantu mempermudah mengolah data yang berkaitan dengan ilmu psikologi, dengan bantuan media teknologi komputer yang berkontribusi dengan sistem informasi, dimana hal ini akan sangat membantu dan mempermudah mulai dari penginputan data, pemrosesan data hingga mendapatkan hasil (output) dalam pengolahan data.

Sistem informasi pada pembahasan kali ini dihubungkan dengan psikologi. Psikologi berasal dari kata psyche yang berarti “jiwa” dan logos artinya “ilmu pengetahuan”. Jadi, psikologi adalah ilmu jiwa. Branca (dalam Basuki, 2008) mengemukakan psikologi adalah pengetahuan tentang perilaku manusia. Woodworth dan Marquis (dalam Basuki, 2008) memberi gambaran bahwa psikologi mempelajari aktivitas-aktivitas individu, baik aktivitas motorik, kognitif maupun emosional.


Sistem informasi psikologi dapat didefinisikan sebagai suatu bidang kajian ilmu yang mempelajari tentang hubungan antara ilmu psikologi itu sendiri dalam kaitannya dengan penggunaan komputer dan aplikasinya dalam bidang psikologi. Dengan contoh-contoh aplikasi langsung sebagai contoh : penggunaan komputer dalam pembuatan software-software untuk bidang psikologi. Misalnya saja, di perusahaan sekarang ini banyak menggunakan software tentang alat tes agar waktu yang digunakan dalam menyeleksi juga. calon karyawan baru lebih cepat dan efisien, serta tidak membuang tenaga para penyeleksinya. Contoh lainnya adalah komputer dijadikan sebagai alat pembantu untuk menambah informasi dan digunakan sebagai alat untuk mempermudah jika ada alat test psikologi yang memerlukan perhitungan skor.









Sumber:
H.S, D. S., & Bunawan. (1996). Metodologi Pengembangan Sistem Informasi. Jakarta: Gunadarma.
http://saifulrahman.lecture.ub.ac.id/Pengantar-Sistem-Informasi.pdf
Istiningsih. (2009). Pengertian sistem dan analisis sistem. Depok: Universitas Gunadarma.
Sutabri, Tata. (2005). Sistem informasi manajemen. Yogyakarta: Andi.

#SIP Etika Menulis Artikel Online



Internet sudah menjadi sarana paling utama dalam kehidupan manusia untuk berbagi informasi dalam berbagai aspek. Informasi yang bisa dibagikan lewat internet sangat luas.berkisar pada hal sangat penting sampai hal yang paling tidak penting. Dikarenankan sifatnya yang sangat bebas dan tanpa batas inilah, internet menjadi sarana yang useful, namun dangerous jika tidak digunakan dengan aturan tertentu.

Aturan dalam menggunakan internet inilah yang butuh diketahui oleh semua kalangan. Bahwa sebenarnya ada aturan yang mengatur kegiatan berinternet dan aturan ini butuh dilakukan oleh semua pihak, baik pihak yang menginput informasi, maupun pihak yang mengambil informasi dari internet. Maka dengan adanya aturan (etika) demikian, akan tercipta internet yang sehat, yang baik untuk semua lapisan masyarakat.

Penulisan pada media online yang baik membutuhkan kepribadian dan etika yang baik dari penulisnya. Penulis pada media online memiliki tugas unutk mneyajikan tulisan yang bertanggung jawab. Jika tidak, hal tersebut dapat menyebabkan berkurangnya pembaca serta turunya reputasi diri. Terutama yang harus disadari oleh para penulis adalah “what’s on the internet, it stays online, it stays forever”

Sebelum mulai menulis dalam media online, penulis perlu menyadari beberapa pertanyaan berikut:
  • Apakah cerita yang akan disajikan benar? Sebaiknya penulis tidak menulis sebuah berita berdasarkan rumor untuk menghindari hal-hal yang tidak benar terjadi. Maka menjadi suatu hal yang penting bagi penulis untuk melakukan riset tentang tulisanya sebelum di unggah ke media online. Rumor dapat digunakan sebagai acuan dan dasar inverstigasi tentang apa yang sebenarnya terjadi.
  • Apakah saya memiliki bukti yang dapat memperlihatkan bahwa cerita tersebut benar? Penulis dapat terlebih dahulu mencari dokumen, berita, surat, atau apapun yang berhubungan dengan cerita yang akan ditulis di media online yang dapat mendukung bahwa tulisan terssebut merupakan kejadian yang benar terjadi
  • Apakah saya mengenal saksi mata? Saksi mata dapat membantu penulis untuk memberikan kabar yang sebenar-benarnya terjadi, sehingga tulisan yang di unggah penulis menjadi suatu tulisan yang lebih valid.
  • Apakah saya dapat menyampaikan dua sisi cerita? Apakah cerita yang saya sampaikan seimbang? Cerita yang seimbang dan faktual memberikan pembaca pandangan yang adil dari 2 sudut pandang. Jika suatu cerita mendapatkan perlawanan dari suatu pihak maka pembaca dapat juga memahami cerita dari pihak yang lain.


Do's and Don'ts in Online Writing


Keseimbangan
Penulisan yang seimbang berarti keadilan dan tidak bias. Professor Ward dalam seminarnya menyebutkan “One show one’s impartiality bu being willing to check one’s fact and to treat other people’s prespective fairly. Without some degree of impartiality, journalist are simply narrow-minded activist whose work cannot (should not) be trusted”

Akurat
Pembaca berhak mendapatkan berita atau informasi yang akurat dan komprehensif. Maka penulis harus dapat memastikan informasi yag diterima adalah benar, tepat, dan bebas dari kesalahan. Akurasi juga berarti tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan penulisan sehingga tidak terdapat kesalahan. Penulis harus dapat bertanggungjawab dengan berita atau informasi yang diberikan.

Integritas
Integritas berarti kejujuran dan kemurnian. Kejujuran dan kemurnian menjadi sebuah hal penting dalam integritas. Tanpa rasa hormat, nilai-nilai tersebut mustahil untuk menjaga nama baik penulis serta karakter penullis.

Rasa Tanggungjawab
Publikasi yang bertanggujawab harus dapat menyampaikan informasi yang adil, seimbang, dan apa adanya karena informasi yang disajikan merupakan sebuah cermin sosial yang baik. Hal tersebut diwujudkan melalui tidak hanya terfokus pada kepentingan personal namun pada kepentingan orang lain. Bertanggungjawab juga berarti dapat menerima konsekuensi dari cerita yang ditulis dan di publikasikan. Penulis tidak hanya harus mengerti bagaimana menulis cerita atau informasi yang menarik namun juga dapat memprediksikan kemungkinan konsekuensi dari cerita yang ingin disampaikan. Jika hal tersebut dapat dicapai penulis, maka penulis dapat meminimalisir kemungkinan melukai perasaan beberapa individu atau lingkungan sosial.

Privasi
Meskipun pembaca memilki hak untuk mendapatkan informasi, individu juga berhak mendapatkan privasi dalam kehidupanya. Meskipun terkadang privasi juga dapat dipatahkan demi perhatian publik yang begitu besar akan tulisan online yang diunggah. Bekerja pada hal yang berhubungan dengan perhatian publik berarti meletakkan kepentingan kepentingan publik diatas kekshawatiran orang lain. Penulis online harus dapat membedakan mana berita yaang berhak diketahui publik dan bagian berita mana yang publik cari hanya karena rasa keingintahuan.

Verifikasi
Tidak semua informasi atau berita yang ditemukan dalam media online merupakan informasi yang benar. Maka diperlukan kesadaran dari penulis untuk memberikan informasi sebenar-benarnya. Verifikasi dapat membantu memberikan data yang akurat sesuai dengan fakta yang terjadi kepada publik. Sebaiknya, dalam menuliskan informasi penulis tidak menulis berdasarkan spekulasi dan tidak melebih-lebihkan apa yang terjadi.


“We have entered a phase where spinning of stories has become a skillful art. Truthful, factual, fair and balanced reports must be re-emphasized. Distortion of information either deliberately or by omission must be prohibited. Truth and facts, ethical reports, impartial and bias-free reporting, integrity, social responsibility, avoid discriminating, sensation-free reports, protection of sources, respect and dignity, defending freedom; the list is endless” (Mutabazi Jeb Mutanga, Media and Communication Consultant of Ideal Solution, Inc)









Sumber:
    Buchanan, E. A. (2004) Readings in Virtual Reasearch Ethics: Issues and Controversies. Pennsylvania: Information Science Publishing.
      Mugira, Fredrik. (2014) Fastidious: A Guidebook on Ethical Strategies for Social Media Writers. Uganda: Center of International Media Ethics.
         McKee, Heidi & James E. P.  The ethics of digital writing research: a rhetorical approach. 1-43
         Margianto, J. H. & Asep Syaefullah. (2012) Media Online: Pembaca, Laba, dan Etika. Jakarta: Aji Indonesia.
         Hadi, Nur. (2006) Etika berkomunikasi di dunia maya dengan netiquette. Jurnal Pendidikan Matematika FMIPA UNY. 341-362

Faktor Kesehatan Jiwa Pilot pada Kecelakaan Pesawat GermanWings

Bab 1
Latar Belakang
Pilot adalah seseorang yang sudah berlisensi dalam menerbangkan pesawat. Sebelum menjadi seorang pilot, calon pilot diharuskan menjalani pendidikan D4 penerbangan di instansi pendidikan tertentu, salah satunya STPI (Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia). Selain diharuskan menempuh pendidikan yang cukup lama, calon pilot juga diwajibkan memiliki skill-skill khusus dan kriteria tertentu agar dapat diterima di maskapai penerbangan.
Setiap maskapai penerbangan memiliki kriteria khusus mengenai penerimaan pilot, meskipun antara satu maskapai dan maskapai lainnya tidak terlalu berbeda. Adanya kriteria-kriteria tersebut dimaksudkan agar tidak adanya human error saat terbang. Adanya human error bisa mengakibatkan kecelakaan yang fatal.
Kriteria yang umum dijadikan syarat penerimaan pilot, antara lain tubuh proposional, tidak menderita cacat apapun, memiliki kemampuan menerbangkan pesawat dengan baik, dan sehat secara fisik mapun psikis. Disamping itu ada beberapa persyaratan lainnya, seperti memiliki lisensi terbang, cakap berbahasa Inggris, memiliki kemampuan problem solving yang sangat diperlukan oleh seorang pilot bila suatu saat mendapat masalah saat terbang.
Maskapai penerbangan yang besar, seperti Garuda Indonesia, biasanya memiliki aturan yang sangat ketat dalam penerimaan pilot, dibandingkan dengan maskapai penerbangan di daerah. Hal itu karena maskapai penerbangan besar memiliki calon penumpang yang relatif sangat banyak, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Maskapai-maskapai besar tersebut juga memiliki rute yang terhitung sangat jauh, melintasi negara, bahkan benua.
Kriteria-kriteria maskapai penerbangan besar sayangnya tidak terbukti pada maskapai penerbangan GermanWings milik Jerman. Salah satu co-pilot maskapai tersebut nekat mengakhiri hidupnya dengan menabrakan pesawat yang berisi 150 penumpang ke Pegunungan Alpen, Perancis. Ditemukan bahwa beberapa lama sebelum dia bergabung dengan GermanWings, dia pernah mengikuti psikoterapi karena didiagnosis memiliki kecenderungan untuk bunuh diri.
Meskipun sudah mengikuti psikoterapi untuk mengurangi kecenderungan bunuh diri, namun dia kembali lagi pada keadaan tersebut, karena putus cinta dengan kekasihnya. Hal tersebut membuat kecenderungan untuk bunuh diri muncul kembali. Dia tidak mempunyai kemampuan penyesuaian terhadap masalah yang dihadapinya.
Tujuan penulisan makalah ini adalah agar banyak orang yang semakin terbuka pemikirannya tentang betapa pentingnya kesehatan mental. Semua orang dengan profesi apapun harus sehat secara fisik maupun psikis. Hal tersebut harus diperhatikan oleh siapapun, kapanpun, dan dimanapun.



Bab 2
Landasan Teori
            Gangguan penyesuaian (adjusment disorder) merupakan suatu reaksi maladaptif terhadap suatu stresor yang dikenali (Nevid, Rathus, Greene, 2003). Reaksi maladaptif ini terlihat dari adanya hendaya yang bermakna (signifikan) dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau akademis, atau adanya kondisi distres emosional yang melebihi batas normal. Diagnosis gangguan penyesuaian bisa ditegakkan bila reaksi terhadap stresstersebut tidak memenuhi kriteria diagnostik sindrom klinis yang lain seperti gangguan mood atau gangguan kecemasan.
            Gangguan depresi mayor adalah terjadinya satu atau lebih periode atau episode depresi (disebut episode depresi mayor) tanpa ada riwayat terjadinya episode manik atau hipomanik alami. Dalam episode depresi mayor, orang tersebut mengalami salah satu di antara mood depresi (merasa sedih, putus asa, atau terpuruk) atau kehilangan minat/rasa senang dalam semua atau berbagai aktivitas untuk periode waktu paling sedikit 2 minggu (APA, 2000).
Persepsi terhadap stresor yang muncul secara tiba-tiba akan memicu munculnya reaksi waspada. Reaksi ini menggerakkan tubuh untuk mempertahankan diri. Diawali oleh otak dan diatur oleh sistem endokrin dan cabang simpatis dan sistem saraf otonom. Pada tahun 1929, Walter Cannon, fisiolog dari Harvard University menyebut pola respons ini sebagai reaksi berjuang atau melarikan diri (fight-or-flight reaction).
            Teori kognitif dari Aaron Beck menghubungknan pengembangan depresi dengan adopsi dari cara berpikir yang bias atau terdistorsi secara negatif di awal kehidupan. Segi tiga kognitif mencakup keyakinan-keyakinan negatif mengenai diri sendiri (contoh: “Saya tidak berguna”), lingkungan atau dunia secara umum (contoh: “Sekolah ini menyebalkan”), dan masa depan (contoh: “ Tidak akan pernah ada yang berakhir sukses untuk saya”). Teori kognitif meyakinkan bahwa orang yang mengadopsi cara berpikir yang negatif ini memiliki risiko yang lebih besar untuk menjadi depresi bila dihadapkan pada pengalaman hidup yang menekan atau mengecewakan, seperti kehilangan pekerjaan atau putus dengan kekasih.

            Berpura-pura seakan masalah tidak ada atau tidak terjadi merupakan suatu bentuk penyangkalan. Penyangkalan merupakan suatu contoh coping yang berfokus pada emosi (emotion-focused coping) (Lazarus & Folkman, 1984). Pada coping yang berfokus pada emosi, orang berusaha segera mengurangi dampak stresor, dengan menyangkal adanya stresor atau menarik diri dari situasi. Namun coping yang berfokus pada emosi tidak menghilangkan stresor (sebagai contoh, suatu penyakit yang serius) atau tidak juga membantu individu dalam mengembangkan cara yang lebih baik untuk mengatur stresor. Sebaliknya, pada coping yang berfokus pada masalah (problem-focused coping) orang menilai stresor yang mereka hadapi dan melakukan sesuatu untuk mengubah stresor atau memodifikasi reaksi mereka untuk meringankan efek dari stresor tersebut.


Analisa Kasus
            Baru-baru ini terdapat sebuah kasus bunuh diri yang dilakukan co-pilot dari GermanWings.


KOMPAS.com — Sebelum menerima lisensi pilotnya atau menerbangkan pesawat berpenumpang, Andreas Lubitz, kopilot Germanwings yang jatuh, sempat bermasalah. Ia disebut pernah menjalani pengobatan karena memiliki kecenderungan bunuh diri, kata jaksa, Senin (31/3/2015).
Hal ini memunculkan pertanyaan tentang apakah maskapai mengetahui kondisinya. Lubitz telah menerima pengobatan oleh seorang psikoterapis selama jangka waktu yang panjang, kata kantor kejaksaan di Düsseldorf tanpa merinci informasi waktu.
            Pada 29 Maret 2015 dunia dikejutkan oleh pesawat yang ditabrakkan oleh co-pilotnya di pegunungan Alpen. Pesawat tersebut milik maskapai penerbangan milik Jerman, yaitu Germanwings. Banyak fakta yang ditemukan setelah kejadian tersebut. Diantaranya adalah Lubitz, nama co-pilot tersebut diketahui pernah melakukan psikoterapi karena memiliki kecenderungan untuk bunuh diri. Lubitz pun sempat dirawat oleh psikolog dan psikiater.


Bbc.co.uk/Indonesia - Andreas Lubitz yang diduga sengaja menabrakkan pesawat Germanwings ke pegunungan Alpen menyembunyikan penyakit yang dideritanya dari perusahaan. Hal tersebut diungkapkan dalam laporan jaksa di Dusseldorf, Jerman, namun penyakit yang diderita Lubitz itu tidak diungkapkan. Robekan sejumlah surat pernyataan sakit ditemukan di rumahnya.
            Bukti lain yang ditemukan pasca kejadian tersebut adalah bahwa Lubitz baru saja putus dengan kekasihnya. Bukti tersebut meingkatkan kecenderungan Lubitz melakukan bunuh diri, seperti penjelasan mengenai gangguan penyesuaian di atas. Lubitz sulit untuk menyesuaikan dirinya setelah putus dari kekasihnya. Masa lalu Lubitz yang pernah mengalami gangguan psikologis juga memperkuat kecenderungan bunuh diri itu kembali lagi.
Dalam kasus di atas, Lubitz terbukti memiliki gangguan penyesuaian. Lubitz tidak bisa menyesuaikan diri pada perubahan yang terjadi di sekelilingnya. Dalam hal ini, dia tidak bisa menyesuaikan dirinya yang baru saja putus cinta.
Bila dikaitkan dengan teori dari walter Cannon tentang fight-or-flight reaction, Lubitz memilih flight reaction, yaitu melarikan diri dari masalah yang sedang dihadapinya. Pelarian tersebut juga mungkin berkaitan dengan riwayat kesehatan jiwanya yang pernah sakit. Sehingga, dia tidak bisa membedakan yang mana yang seharusnya dia lakukan.
Menurut Aaron Beck tentang teori kognitifnya, pilihan untuk bunuh diri yang Lubitz pilih berkaitan dengan keyakinan-keyakinan negatifnya mengenai diri sendiri. Lubitz merasa tidak mampu memperbaiki situasi yang telah terjadi pada dirinya, dengan keputusan kekasihnya yang ingin berpisah, dan juga dengan karier yang terancam hancur karena riwayat kesehatan jiwanya.


Bab 3
Penutup
1.        Kesimpulan
            Banyak hal yang melatarbelakangi keputusan seseorang untuk bunuh diri. Salah satunya adalah tekanan psikologis yang dialami seseorang saat kehilangan orang yang dicinatinya. Tidak terkecuali pada seorang pilot. Apalagi dengan latar belakang yang pernah didiagnosis memiliki kecenderungan bunuh diri, sangat wajar bila pilot tersebut mengahdapi gangguan psikologis lagi.
            Maskapai penerbangan yang sudah memiliki sistem penerimaan pilot, seperti yang terjadi pada maskapai besar GermanWings tidak mengetahui tentang penyakit Lubitz. Maskapai kurang meneliti masa lalu dari seorang calon co-pilot. Pada akhirnya, penumpanglah yang menjadi korban ketidakprofesionalan maskapai.
2.        Saran
            Maskapai penerbangan seharusnya lebih ketat dalam perekrutan pilot. Selain melihat dari sisi akademis, maskapai juga harus memperhatikan sisi psikologis calon pilot. Walaupun sisi psikologis seseorang sering kali terhalang oleh berbagai prestasi akademis, tapi maskapai dapat melihat itu dari sejarah kesehatan mentalnya. Seperti pernah tidaknya dia mengalami gangguan psikologis atau tidak, pernah atau tidaknya mendatangi psikiatri, atau dari catatan kesehatan mentalnya. Sisi psikologis tersebut dapat terlihat dari hasil tes, dianjurkan lebih dari satu yang mencakup berbagai jenis tes, yang dapat melihat kelebihan, kekurangan, bahkan penyakit psikologis yang diderita calon pilot.
            Selain dari sisi maskapai, perubahan juga seharusnya disadari oleh para calon pilot. Para calon pilot seharusnya menyadari bahwa profesi yang dipilihnya merupakan profesi dengan tanggungjawab yang sangat besar, terutama untuk menjaga nyawa penumpang saat berada di dalam pesawat. Calon pilot seharusnya lebih introspeksi diri pada kekurangan pribadi masing-masing. Bila dirasa tidak memenuhi kriteria dan persyaratan dasar sebagai pilot, lebih baik untuk tidak melanjutkan profesi tersebut dan memilih profesi lain dengan tingkat yang lebih rendah pada urusan nyawa penumpang.



Daftar Pustaka
Nevid, Jeffrey, dkk. 2003. Psikologi Abnormal edisi lima jilid 1. Jakarta: Penerbit Erlangga
                    
                                                                                                                  

Popular Post

Coming Soon

Coming Soon

Cari Blog Ini