Faktor Kesehatan Jiwa Pilot pada Kecelakaan Pesawat GermanWings

Bab 1
Latar Belakang
Pilot adalah seseorang yang sudah berlisensi dalam menerbangkan pesawat. Sebelum menjadi seorang pilot, calon pilot diharuskan menjalani pendidikan D4 penerbangan di instansi pendidikan tertentu, salah satunya STPI (Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia). Selain diharuskan menempuh pendidikan yang cukup lama, calon pilot juga diwajibkan memiliki skill-skill khusus dan kriteria tertentu agar dapat diterima di maskapai penerbangan.
Setiap maskapai penerbangan memiliki kriteria khusus mengenai penerimaan pilot, meskipun antara satu maskapai dan maskapai lainnya tidak terlalu berbeda. Adanya kriteria-kriteria tersebut dimaksudkan agar tidak adanya human error saat terbang. Adanya human error bisa mengakibatkan kecelakaan yang fatal.
Kriteria yang umum dijadikan syarat penerimaan pilot, antara lain tubuh proposional, tidak menderita cacat apapun, memiliki kemampuan menerbangkan pesawat dengan baik, dan sehat secara fisik mapun psikis. Disamping itu ada beberapa persyaratan lainnya, seperti memiliki lisensi terbang, cakap berbahasa Inggris, memiliki kemampuan problem solving yang sangat diperlukan oleh seorang pilot bila suatu saat mendapat masalah saat terbang.
Maskapai penerbangan yang besar, seperti Garuda Indonesia, biasanya memiliki aturan yang sangat ketat dalam penerimaan pilot, dibandingkan dengan maskapai penerbangan di daerah. Hal itu karena maskapai penerbangan besar memiliki calon penumpang yang relatif sangat banyak, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Maskapai-maskapai besar tersebut juga memiliki rute yang terhitung sangat jauh, melintasi negara, bahkan benua.
Kriteria-kriteria maskapai penerbangan besar sayangnya tidak terbukti pada maskapai penerbangan GermanWings milik Jerman. Salah satu co-pilot maskapai tersebut nekat mengakhiri hidupnya dengan menabrakan pesawat yang berisi 150 penumpang ke Pegunungan Alpen, Perancis. Ditemukan bahwa beberapa lama sebelum dia bergabung dengan GermanWings, dia pernah mengikuti psikoterapi karena didiagnosis memiliki kecenderungan untuk bunuh diri.
Meskipun sudah mengikuti psikoterapi untuk mengurangi kecenderungan bunuh diri, namun dia kembali lagi pada keadaan tersebut, karena putus cinta dengan kekasihnya. Hal tersebut membuat kecenderungan untuk bunuh diri muncul kembali. Dia tidak mempunyai kemampuan penyesuaian terhadap masalah yang dihadapinya.
Tujuan penulisan makalah ini adalah agar banyak orang yang semakin terbuka pemikirannya tentang betapa pentingnya kesehatan mental. Semua orang dengan profesi apapun harus sehat secara fisik maupun psikis. Hal tersebut harus diperhatikan oleh siapapun, kapanpun, dan dimanapun.



Bab 2
Landasan Teori
            Gangguan penyesuaian (adjusment disorder) merupakan suatu reaksi maladaptif terhadap suatu stresor yang dikenali (Nevid, Rathus, Greene, 2003). Reaksi maladaptif ini terlihat dari adanya hendaya yang bermakna (signifikan) dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau akademis, atau adanya kondisi distres emosional yang melebihi batas normal. Diagnosis gangguan penyesuaian bisa ditegakkan bila reaksi terhadap stresstersebut tidak memenuhi kriteria diagnostik sindrom klinis yang lain seperti gangguan mood atau gangguan kecemasan.
            Gangguan depresi mayor adalah terjadinya satu atau lebih periode atau episode depresi (disebut episode depresi mayor) tanpa ada riwayat terjadinya episode manik atau hipomanik alami. Dalam episode depresi mayor, orang tersebut mengalami salah satu di antara mood depresi (merasa sedih, putus asa, atau terpuruk) atau kehilangan minat/rasa senang dalam semua atau berbagai aktivitas untuk periode waktu paling sedikit 2 minggu (APA, 2000).
Persepsi terhadap stresor yang muncul secara tiba-tiba akan memicu munculnya reaksi waspada. Reaksi ini menggerakkan tubuh untuk mempertahankan diri. Diawali oleh otak dan diatur oleh sistem endokrin dan cabang simpatis dan sistem saraf otonom. Pada tahun 1929, Walter Cannon, fisiolog dari Harvard University menyebut pola respons ini sebagai reaksi berjuang atau melarikan diri (fight-or-flight reaction).
            Teori kognitif dari Aaron Beck menghubungknan pengembangan depresi dengan adopsi dari cara berpikir yang bias atau terdistorsi secara negatif di awal kehidupan. Segi tiga kognitif mencakup keyakinan-keyakinan negatif mengenai diri sendiri (contoh: “Saya tidak berguna”), lingkungan atau dunia secara umum (contoh: “Sekolah ini menyebalkan”), dan masa depan (contoh: “ Tidak akan pernah ada yang berakhir sukses untuk saya”). Teori kognitif meyakinkan bahwa orang yang mengadopsi cara berpikir yang negatif ini memiliki risiko yang lebih besar untuk menjadi depresi bila dihadapkan pada pengalaman hidup yang menekan atau mengecewakan, seperti kehilangan pekerjaan atau putus dengan kekasih.

            Berpura-pura seakan masalah tidak ada atau tidak terjadi merupakan suatu bentuk penyangkalan. Penyangkalan merupakan suatu contoh coping yang berfokus pada emosi (emotion-focused coping) (Lazarus & Folkman, 1984). Pada coping yang berfokus pada emosi, orang berusaha segera mengurangi dampak stresor, dengan menyangkal adanya stresor atau menarik diri dari situasi. Namun coping yang berfokus pada emosi tidak menghilangkan stresor (sebagai contoh, suatu penyakit yang serius) atau tidak juga membantu individu dalam mengembangkan cara yang lebih baik untuk mengatur stresor. Sebaliknya, pada coping yang berfokus pada masalah (problem-focused coping) orang menilai stresor yang mereka hadapi dan melakukan sesuatu untuk mengubah stresor atau memodifikasi reaksi mereka untuk meringankan efek dari stresor tersebut.


Analisa Kasus
            Baru-baru ini terdapat sebuah kasus bunuh diri yang dilakukan co-pilot dari GermanWings.


KOMPAS.com — Sebelum menerima lisensi pilotnya atau menerbangkan pesawat berpenumpang, Andreas Lubitz, kopilot Germanwings yang jatuh, sempat bermasalah. Ia disebut pernah menjalani pengobatan karena memiliki kecenderungan bunuh diri, kata jaksa, Senin (31/3/2015).
Hal ini memunculkan pertanyaan tentang apakah maskapai mengetahui kondisinya. Lubitz telah menerima pengobatan oleh seorang psikoterapis selama jangka waktu yang panjang, kata kantor kejaksaan di Düsseldorf tanpa merinci informasi waktu.
            Pada 29 Maret 2015 dunia dikejutkan oleh pesawat yang ditabrakkan oleh co-pilotnya di pegunungan Alpen. Pesawat tersebut milik maskapai penerbangan milik Jerman, yaitu Germanwings. Banyak fakta yang ditemukan setelah kejadian tersebut. Diantaranya adalah Lubitz, nama co-pilot tersebut diketahui pernah melakukan psikoterapi karena memiliki kecenderungan untuk bunuh diri. Lubitz pun sempat dirawat oleh psikolog dan psikiater.


Bbc.co.uk/Indonesia - Andreas Lubitz yang diduga sengaja menabrakkan pesawat Germanwings ke pegunungan Alpen menyembunyikan penyakit yang dideritanya dari perusahaan. Hal tersebut diungkapkan dalam laporan jaksa di Dusseldorf, Jerman, namun penyakit yang diderita Lubitz itu tidak diungkapkan. Robekan sejumlah surat pernyataan sakit ditemukan di rumahnya.
            Bukti lain yang ditemukan pasca kejadian tersebut adalah bahwa Lubitz baru saja putus dengan kekasihnya. Bukti tersebut meingkatkan kecenderungan Lubitz melakukan bunuh diri, seperti penjelasan mengenai gangguan penyesuaian di atas. Lubitz sulit untuk menyesuaikan dirinya setelah putus dari kekasihnya. Masa lalu Lubitz yang pernah mengalami gangguan psikologis juga memperkuat kecenderungan bunuh diri itu kembali lagi.
Dalam kasus di atas, Lubitz terbukti memiliki gangguan penyesuaian. Lubitz tidak bisa menyesuaikan diri pada perubahan yang terjadi di sekelilingnya. Dalam hal ini, dia tidak bisa menyesuaikan dirinya yang baru saja putus cinta.
Bila dikaitkan dengan teori dari walter Cannon tentang fight-or-flight reaction, Lubitz memilih flight reaction, yaitu melarikan diri dari masalah yang sedang dihadapinya. Pelarian tersebut juga mungkin berkaitan dengan riwayat kesehatan jiwanya yang pernah sakit. Sehingga, dia tidak bisa membedakan yang mana yang seharusnya dia lakukan.
Menurut Aaron Beck tentang teori kognitifnya, pilihan untuk bunuh diri yang Lubitz pilih berkaitan dengan keyakinan-keyakinan negatifnya mengenai diri sendiri. Lubitz merasa tidak mampu memperbaiki situasi yang telah terjadi pada dirinya, dengan keputusan kekasihnya yang ingin berpisah, dan juga dengan karier yang terancam hancur karena riwayat kesehatan jiwanya.


Bab 3
Penutup
1.        Kesimpulan
            Banyak hal yang melatarbelakangi keputusan seseorang untuk bunuh diri. Salah satunya adalah tekanan psikologis yang dialami seseorang saat kehilangan orang yang dicinatinya. Tidak terkecuali pada seorang pilot. Apalagi dengan latar belakang yang pernah didiagnosis memiliki kecenderungan bunuh diri, sangat wajar bila pilot tersebut mengahdapi gangguan psikologis lagi.
            Maskapai penerbangan yang sudah memiliki sistem penerimaan pilot, seperti yang terjadi pada maskapai besar GermanWings tidak mengetahui tentang penyakit Lubitz. Maskapai kurang meneliti masa lalu dari seorang calon co-pilot. Pada akhirnya, penumpanglah yang menjadi korban ketidakprofesionalan maskapai.
2.        Saran
            Maskapai penerbangan seharusnya lebih ketat dalam perekrutan pilot. Selain melihat dari sisi akademis, maskapai juga harus memperhatikan sisi psikologis calon pilot. Walaupun sisi psikologis seseorang sering kali terhalang oleh berbagai prestasi akademis, tapi maskapai dapat melihat itu dari sejarah kesehatan mentalnya. Seperti pernah tidaknya dia mengalami gangguan psikologis atau tidak, pernah atau tidaknya mendatangi psikiatri, atau dari catatan kesehatan mentalnya. Sisi psikologis tersebut dapat terlihat dari hasil tes, dianjurkan lebih dari satu yang mencakup berbagai jenis tes, yang dapat melihat kelebihan, kekurangan, bahkan penyakit psikologis yang diderita calon pilot.
            Selain dari sisi maskapai, perubahan juga seharusnya disadari oleh para calon pilot. Para calon pilot seharusnya menyadari bahwa profesi yang dipilihnya merupakan profesi dengan tanggungjawab yang sangat besar, terutama untuk menjaga nyawa penumpang saat berada di dalam pesawat. Calon pilot seharusnya lebih introspeksi diri pada kekurangan pribadi masing-masing. Bila dirasa tidak memenuhi kriteria dan persyaratan dasar sebagai pilot, lebih baik untuk tidak melanjutkan profesi tersebut dan memilih profesi lain dengan tingkat yang lebih rendah pada urusan nyawa penumpang.



Daftar Pustaka
Nevid, Jeffrey, dkk. 2003. Psikologi Abnormal edisi lima jilid 1. Jakarta: Penerbit Erlangga
                    
                                                                                                                  

Leave a Reply

Popular Post

Coming Soon

Coming Soon

Cari Blog Ini