Review Jurnal Cognitive Behavior Therapy for Negative Body image in Obese Women

Judul : Cognitive Behavior Therapy for Negative Body image in Obese Women
Penulis: James C. Rosen, Pam Orosan, Jeff Reiter

Pada wanita yang memiliki tubuh obesitas, ada banyak gangguan psikologis yang dialami seperti rendahnya self-esteem, selalu merasa rendah dibandingkan orang lain, yang dapat menimbulkan gangguan lain seperti Body Dysmorphic Disorder (BDD), Bullimia, eating disorder, dan sebagainya. Pada jurnal ini, khusus akan dibahas yaitu tentang efektivitas Cognitive Behavior Therapy (CBT) untuk negative body image. Cognitive Behavior Therapy, yaitu jenis terapi yang digunakan untuk memunculkan pemikiran-pemikiran baru yang tepat dengan cara melihat atau melakukan perilaku tertentu sebagai bentuk terapinya. Tujuan utamanya yaitu untuk mendapatkan gambaran diri yang lebih baik pada wanita obesitas karena selama ini wanita obesitas selalu merasa buruk dalam hal penampilannya. Walaupun sebenarnya perilaku menurunkan berat badan adalah salah satu cara untuk menghilangkan negative body image, namun cara tersebut tidak efektif pada sebagian wanita yang gagal menurunkan berat badannya. Justru akan berdampak lebih buruk pada kejiwaannya jika usaha yang dilakukan tidak menghasilkan seperti apa yang diinginkan. Maka dari itu, perlu adanya terapi yang dikhususkan untuk mengurangi negative body image tanpa perlu berusaha mengurangi berat badan.
Pada awalnya, subjek yang potensial berjumlah 77 orang yang terdiri dari wanita dan laki-laki. Namun, agar data yang didapat lebih homogen, maka hanya 51 wanita saja yang menjadi subjek penelitian ini. Jumlah tersebut juga sudah dikurangi penderita psikotik, penderita bulimia nervosa, dan calon subjek yang tidak mengikuti evaluasi sebelum treatment dan juga yang tidak bersedia mengikuti treatment.
Tingkat obesitas yang dimiliki subjek bervariasi. Dengan menggunakan skala BMI, 26% termasuk kelas I BMI, 42% kelas II, 22% kelas III, dan 10% kelas IV. Interval umur subjek yaitu dari umur 23 sampai 61 tahun. 52% sudah lulus kuliah, 24% sedang berkuliah, 20% lulus SMA, 4% tidak menyelesaikan sekolahnya. 50% sudah menikah, 36% belum pernah menikah, 11% bercerai, dan 2% adalah janda.
Terdapat beberapa alat ukur yang digunakan. Alat-alat ukur tersebut berfungsi untuk melihat bagaimana body image dari masing-masing subjek. Selain itu juga skala tersebut berfungsi untuk melihat persepsi diri subjek terhadap tubuh mereka, dan juga melihat apakah ada gangguan-gangguan lain seperti gangguan makan.
Prosedur penelitian tersebut adalah dengan membagi menjadi 2 kelompok, yaitu 25 orang yang melakukan CBT dan 23 dijanjikan melakukan CBT setelah penelitian selesai. Treatment dilakukan dalam 8 sesi dan 2 jam per sesi. Rencana awal adalah selesai selama 8 minggu, namun karena dibagi perkelompok dan anggota kelompok harus hadir pada saat sesi, sehinggal ada kelompok yang mundur hingga 12 minggu baru dapat menyelesaikan treatment. Treatment terdiri dari berbagai macam target di setiap sesinya. Hal itu dilakukan agar tiap sesi berarah dan selesai tepat pada waktunya.
Hasilnya, CBT mampu mengurangi negative body image secara signifikan dibandingkan dengan kelompok yang tidak dilakukan treatment. Namun, treatment ini sama sekali tidak membuat subjek mengurangi berat badannya dengan diet. Karena dalam salah satu sesi, subjek diingatkan bahwa body image dan obesitas adalah sesuatu yang berbeda. Yang seharusnya tidak saling memengaruhi satu sama lain. Selain itu, dalam penelitian ini hanya memperlihatkan hasil yang signifikan pada negative body image. Tidak diketahui hasil pada Body Dysmorphic Disorder atau Body Dissatisfaction atau yang lainnya. Namun, yang sangat terlihat adalah subjek yang sudah melakukan treatment lebih memiliki kontrol terhadap makannya, dan mengurangi menyalahkan diri sendiri karena ukuran tubuhnya.

Kekurangan dari penelitian ini adalah hanya meneliti pada wanita yang obesitas. Padahal yang memiliki negative body image juga sangat banyak dialami oleh mahasiswi yang tidak gemuk (menurut penelitian sebelumnya). Kemudian pengisian skala dilakukan oleh diri sendiri, sehingga mungkin terjadi bias karena berbagai faktor salah satunya ada menjadi faking good.

Leave a Reply

Popular Post

Coming Soon

Coming Soon

Cari Blog Ini