Judul : Logotherapy as an Adjuntive
Treatment for Chronic Combat-related PTSD: A Meaning-based Intervention
Penyusun : 1. Steven M. Southwick, M.D.
2. Robin Gilmartin, LCSW.
3. Patrick Mcdonough, LCSW.
4. Paul Morrissey, M.D., MAJ
Sesuai
dengan judulnya, jurnal ini membahas penggunaan logoterapi pada pasien PTSD (Post-traumatic Stress Disorder) kronis
karena perang. Banyak sekali jenis terapi yang sudah digunakan pada penderita
PTSD. Berbeda dengan terapi lain yang berfokus pada psikopatologi dan
gejala-gejala psikologis, logoterapi khusus bertujuan untuk menumbuhkan
kekuatan pasien dan memunculkan pencarian makna dan tujuan hidup. Logoterapi
adalah meaning-centered psikoterapi. Tokoh yang mengembangkan logoterapi adalah
Victor Frankl. Berangkat dari pengetahuannya tentang filosofi eksistensial,
Victor Frankl menolak psikoanalisa dari Freud yang selalu berprinsip pada pleasure dan psikologi individual dari
Adler yang berprinsip pada inferioritas. Menurutnya, menyembuhkan dengan makna
(healing through meaning) lebih
memotivasi penderita PTSD untuk menemukan alasan mengapa mereka harus sembuh
dan tidak boleh terus-menerus terpuruk. Victor Frankl mengembangkan logoterapi
ketika perang dunia 2. Menurutnya dengan logoterapi, bisa membuat para
penderita PTSD yang selalu berfokus pada masa lalunya, jadi terfokus dengan
masa depannya.
Terdapat
beberapa teknik logoterapi, di antaranya yaitu: self-distancing (belajar untuk memperoleh jarak untuk mengobservasi
diri sendiri), paradoxical intention
(menginginkan atau bahkan melakukan hal-hal yang ditakutkan), Socratic dialogue (wawancara agar
memperoleh kebijaksanaan dari pasien itu sendiri), dan dereflection (mengubah sudut pandang dari diri sendiri ke orang
lain atau ke tujuan yang bermakna).
Terdapat
tiga kasus dengan subjek yang berbeda, cara penanganan yang berbeda, dan
hasilnya. Berikut akan dijelaskan kasus-kasus tersebut:
Kasus
1
Subjek
pada kasus ini adalah penderita PTSD kronis yang merupakan veteran perang di
Vietnam. Mereka menjalani program PRRP (Psychososial
Rehabilitative Program). Tujuan program ini adalah untuk membantu para
veteran agar dapat berhubungan kembali dengan keluarga dan komunitasnya.
Program ini dilakukan oleh terapis dengan menggunakan logoterapi, dengan bentuk
group treatment selama 10 minggu. Satu minggunya terdiri dari 10-20 jam. Sesi
dimulai dengan pembagian kertas yang berisi quotation pada masing-masing orang
dan diberi waktu selama 5 menit untuk mempelajarinya. Dilanjutkan dengan
diskusi untuk mengomentari makna quotation
tersebut. Hal ini berguna untuk menumbuhkan keinginan, tanggungjawab, membentuk
karakter, dan memaknai takdir. Dengan mendiskusikan itu, para penderita PTSD
mendengar dari berbagai sudut pandang penderita lain dan secara langsung
termotivasi dengan apa yang dikatakan sesama anggota kelompok tersebut. Terapis
membantu membimbing agar para pasien saling terhubung untuk saling memotivasi.
Terapis juga mengingatkan bahwa para penderita PTSD tersebut adalah orang-orang
yang sangat ahli merasakan rasa sakit, rasa kehilangan, rasa kosong, maka harus
ada yang mereka perbuat karena tidak semua orang pernah merasakan itu. Cara ini
terbukti berhasil untuk menumbuhkan keinginan diri untuk mengubah pandangan
bahwa mereka bukan korban, tapi mereka adalah pejuang.
Kasus
2
Kelanjutan dari kasus 1 di atas,
terdapat grup baru yang berisi pasien PTSD dari rumah sakit veteran yang lain
selain pada kasus 1, adapula dari yang sudah lulus dari terapi 1. Mereka
masing-masing melakukan brainstorming,
kemudian mereka menjalankan berbagai macam project sebagai cara menyembuhkan PTSD
mereka. Contohnya ada yang membuka tempat bermain bagi anak-anak, sebagai
penyembuhan bagi dirinya yang ketika kecil mengalami pengalaman pahit saat
perang. Dia ingin menyampaikan pada anak-anak bahwa mereka harus tahu ada yang
menyayangi mereka. Dengan melakukan hal itu, dapat menumbuhkan kembali makna
hidup penderita PTSD tersebut.
Kasus
3
Seorang
perawat laki-laki berumur 37 tahun yang bertugas untuk Amerika Serikat ketika
perang Persia. Dia harus melihat anak-anak Iraq yang kehilangan bagian
tubuhnya. Dia mengobati dirinya meminum alcohol yang justru tidak membuat dia
menjadi lebih baik. Gejala lain yang dia rasakan yaitu sulit tidur, merasa
bahwa dia tidak memiliki lagi masa depan. Teknik yang dilakukan pada kasus 3
adalah dengan Socratic question.
Teknik ini berfungsi untuk menumbuhkan keinginan pasien untuk berjuang membantu
dirinya sendiri untuk keluar dari gejala-gejala PTSD yang mengganggunya.
Terapis memberikan pertanyaan-pertanyaan yang dapat menumbuhkan kesadaran dari
pasiennya atas makna hidupnya. Dengan cara tersebut, pasien PTSD mulai melihat
dirinya sebagai seseorang yang kuat, yang akan menjadi seorang ayah yang baik,
yang akan menjaga anak-anaknya dari bahaya apapun.
Dari kasus-kasus di
atas dapat disimpulkan bahwa logoterapi mengarahkan pikiran pada makna hidup
yang ingin dicapai. Para penderita PTSD kehilangan makna hidupnya karena
berbagai alasan. Dengan logoterapi, makna hidup tersebut akan tumbuh kembali,
sehingga memunculkan keinginan untuk melakukan banyak hal bagi orang-orang di
sekitarnya.
Kekurangan:
Hasil dari logoterapi
berfokus pada keinginan pasien itu sendiri. Jika pasien tidak mau dan tidak
menemukan makna hidupnya, maka tetap tidak bisa untuk sembuh. Selain itu,
kemampuan terapis dalam menyampaikan setiap kata untuk memberi stimulus harus
baik, agar maksud dan tujuan benar-benar tersampaikan. Kesalahan penggunaan
kata akan memengaruhi hasil.
Kelebihan:
Logoterapi
berfokus pada hal-hal positif, sehingga akan menimbulkan perasaan yang baik. Tidak
membutuhkan obat untuk membantu kesembuhan penderitanya, sehingga tidak
memiliki efek samping apapun.

