Faktor Kesehatan Jiwa Pilot pada Kecelakaan Pesawat GermanWings

Bab 1
Latar Belakang
Pilot adalah seseorang yang sudah berlisensi dalam menerbangkan pesawat. Sebelum menjadi seorang pilot, calon pilot diharuskan menjalani pendidikan D4 penerbangan di instansi pendidikan tertentu, salah satunya STPI (Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia). Selain diharuskan menempuh pendidikan yang cukup lama, calon pilot juga diwajibkan memiliki skill-skill khusus dan kriteria tertentu agar dapat diterima di maskapai penerbangan.
Setiap maskapai penerbangan memiliki kriteria khusus mengenai penerimaan pilot, meskipun antara satu maskapai dan maskapai lainnya tidak terlalu berbeda. Adanya kriteria-kriteria tersebut dimaksudkan agar tidak adanya human error saat terbang. Adanya human error bisa mengakibatkan kecelakaan yang fatal.
Kriteria yang umum dijadikan syarat penerimaan pilot, antara lain tubuh proposional, tidak menderita cacat apapun, memiliki kemampuan menerbangkan pesawat dengan baik, dan sehat secara fisik mapun psikis. Disamping itu ada beberapa persyaratan lainnya, seperti memiliki lisensi terbang, cakap berbahasa Inggris, memiliki kemampuan problem solving yang sangat diperlukan oleh seorang pilot bila suatu saat mendapat masalah saat terbang.
Maskapai penerbangan yang besar, seperti Garuda Indonesia, biasanya memiliki aturan yang sangat ketat dalam penerimaan pilot, dibandingkan dengan maskapai penerbangan di daerah. Hal itu karena maskapai penerbangan besar memiliki calon penumpang yang relatif sangat banyak, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Maskapai-maskapai besar tersebut juga memiliki rute yang terhitung sangat jauh, melintasi negara, bahkan benua.
Kriteria-kriteria maskapai penerbangan besar sayangnya tidak terbukti pada maskapai penerbangan GermanWings milik Jerman. Salah satu co-pilot maskapai tersebut nekat mengakhiri hidupnya dengan menabrakan pesawat yang berisi 150 penumpang ke Pegunungan Alpen, Perancis. Ditemukan bahwa beberapa lama sebelum dia bergabung dengan GermanWings, dia pernah mengikuti psikoterapi karena didiagnosis memiliki kecenderungan untuk bunuh diri.
Meskipun sudah mengikuti psikoterapi untuk mengurangi kecenderungan bunuh diri, namun dia kembali lagi pada keadaan tersebut, karena putus cinta dengan kekasihnya. Hal tersebut membuat kecenderungan untuk bunuh diri muncul kembali. Dia tidak mempunyai kemampuan penyesuaian terhadap masalah yang dihadapinya.
Tujuan penulisan makalah ini adalah agar banyak orang yang semakin terbuka pemikirannya tentang betapa pentingnya kesehatan mental. Semua orang dengan profesi apapun harus sehat secara fisik maupun psikis. Hal tersebut harus diperhatikan oleh siapapun, kapanpun, dan dimanapun.



Bab 2
Landasan Teori
            Gangguan penyesuaian (adjusment disorder) merupakan suatu reaksi maladaptif terhadap suatu stresor yang dikenali (Nevid, Rathus, Greene, 2003). Reaksi maladaptif ini terlihat dari adanya hendaya yang bermakna (signifikan) dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau akademis, atau adanya kondisi distres emosional yang melebihi batas normal. Diagnosis gangguan penyesuaian bisa ditegakkan bila reaksi terhadap stresstersebut tidak memenuhi kriteria diagnostik sindrom klinis yang lain seperti gangguan mood atau gangguan kecemasan.
            Gangguan depresi mayor adalah terjadinya satu atau lebih periode atau episode depresi (disebut episode depresi mayor) tanpa ada riwayat terjadinya episode manik atau hipomanik alami. Dalam episode depresi mayor, orang tersebut mengalami salah satu di antara mood depresi (merasa sedih, putus asa, atau terpuruk) atau kehilangan minat/rasa senang dalam semua atau berbagai aktivitas untuk periode waktu paling sedikit 2 minggu (APA, 2000).
Persepsi terhadap stresor yang muncul secara tiba-tiba akan memicu munculnya reaksi waspada. Reaksi ini menggerakkan tubuh untuk mempertahankan diri. Diawali oleh otak dan diatur oleh sistem endokrin dan cabang simpatis dan sistem saraf otonom. Pada tahun 1929, Walter Cannon, fisiolog dari Harvard University menyebut pola respons ini sebagai reaksi berjuang atau melarikan diri (fight-or-flight reaction).
            Teori kognitif dari Aaron Beck menghubungknan pengembangan depresi dengan adopsi dari cara berpikir yang bias atau terdistorsi secara negatif di awal kehidupan. Segi tiga kognitif mencakup keyakinan-keyakinan negatif mengenai diri sendiri (contoh: “Saya tidak berguna”), lingkungan atau dunia secara umum (contoh: “Sekolah ini menyebalkan”), dan masa depan (contoh: “ Tidak akan pernah ada yang berakhir sukses untuk saya”). Teori kognitif meyakinkan bahwa orang yang mengadopsi cara berpikir yang negatif ini memiliki risiko yang lebih besar untuk menjadi depresi bila dihadapkan pada pengalaman hidup yang menekan atau mengecewakan, seperti kehilangan pekerjaan atau putus dengan kekasih.

            Berpura-pura seakan masalah tidak ada atau tidak terjadi merupakan suatu bentuk penyangkalan. Penyangkalan merupakan suatu contoh coping yang berfokus pada emosi (emotion-focused coping) (Lazarus & Folkman, 1984). Pada coping yang berfokus pada emosi, orang berusaha segera mengurangi dampak stresor, dengan menyangkal adanya stresor atau menarik diri dari situasi. Namun coping yang berfokus pada emosi tidak menghilangkan stresor (sebagai contoh, suatu penyakit yang serius) atau tidak juga membantu individu dalam mengembangkan cara yang lebih baik untuk mengatur stresor. Sebaliknya, pada coping yang berfokus pada masalah (problem-focused coping) orang menilai stresor yang mereka hadapi dan melakukan sesuatu untuk mengubah stresor atau memodifikasi reaksi mereka untuk meringankan efek dari stresor tersebut.


Analisa Kasus
            Baru-baru ini terdapat sebuah kasus bunuh diri yang dilakukan co-pilot dari GermanWings.


KOMPAS.com — Sebelum menerima lisensi pilotnya atau menerbangkan pesawat berpenumpang, Andreas Lubitz, kopilot Germanwings yang jatuh, sempat bermasalah. Ia disebut pernah menjalani pengobatan karena memiliki kecenderungan bunuh diri, kata jaksa, Senin (31/3/2015).
Hal ini memunculkan pertanyaan tentang apakah maskapai mengetahui kondisinya. Lubitz telah menerima pengobatan oleh seorang psikoterapis selama jangka waktu yang panjang, kata kantor kejaksaan di Düsseldorf tanpa merinci informasi waktu.
            Pada 29 Maret 2015 dunia dikejutkan oleh pesawat yang ditabrakkan oleh co-pilotnya di pegunungan Alpen. Pesawat tersebut milik maskapai penerbangan milik Jerman, yaitu Germanwings. Banyak fakta yang ditemukan setelah kejadian tersebut. Diantaranya adalah Lubitz, nama co-pilot tersebut diketahui pernah melakukan psikoterapi karena memiliki kecenderungan untuk bunuh diri. Lubitz pun sempat dirawat oleh psikolog dan psikiater.


Bbc.co.uk/Indonesia - Andreas Lubitz yang diduga sengaja menabrakkan pesawat Germanwings ke pegunungan Alpen menyembunyikan penyakit yang dideritanya dari perusahaan. Hal tersebut diungkapkan dalam laporan jaksa di Dusseldorf, Jerman, namun penyakit yang diderita Lubitz itu tidak diungkapkan. Robekan sejumlah surat pernyataan sakit ditemukan di rumahnya.
            Bukti lain yang ditemukan pasca kejadian tersebut adalah bahwa Lubitz baru saja putus dengan kekasihnya. Bukti tersebut meingkatkan kecenderungan Lubitz melakukan bunuh diri, seperti penjelasan mengenai gangguan penyesuaian di atas. Lubitz sulit untuk menyesuaikan dirinya setelah putus dari kekasihnya. Masa lalu Lubitz yang pernah mengalami gangguan psikologis juga memperkuat kecenderungan bunuh diri itu kembali lagi.
Dalam kasus di atas, Lubitz terbukti memiliki gangguan penyesuaian. Lubitz tidak bisa menyesuaikan diri pada perubahan yang terjadi di sekelilingnya. Dalam hal ini, dia tidak bisa menyesuaikan dirinya yang baru saja putus cinta.
Bila dikaitkan dengan teori dari walter Cannon tentang fight-or-flight reaction, Lubitz memilih flight reaction, yaitu melarikan diri dari masalah yang sedang dihadapinya. Pelarian tersebut juga mungkin berkaitan dengan riwayat kesehatan jiwanya yang pernah sakit. Sehingga, dia tidak bisa membedakan yang mana yang seharusnya dia lakukan.
Menurut Aaron Beck tentang teori kognitifnya, pilihan untuk bunuh diri yang Lubitz pilih berkaitan dengan keyakinan-keyakinan negatifnya mengenai diri sendiri. Lubitz merasa tidak mampu memperbaiki situasi yang telah terjadi pada dirinya, dengan keputusan kekasihnya yang ingin berpisah, dan juga dengan karier yang terancam hancur karena riwayat kesehatan jiwanya.


Bab 3
Penutup
1.        Kesimpulan
            Banyak hal yang melatarbelakangi keputusan seseorang untuk bunuh diri. Salah satunya adalah tekanan psikologis yang dialami seseorang saat kehilangan orang yang dicinatinya. Tidak terkecuali pada seorang pilot. Apalagi dengan latar belakang yang pernah didiagnosis memiliki kecenderungan bunuh diri, sangat wajar bila pilot tersebut mengahdapi gangguan psikologis lagi.
            Maskapai penerbangan yang sudah memiliki sistem penerimaan pilot, seperti yang terjadi pada maskapai besar GermanWings tidak mengetahui tentang penyakit Lubitz. Maskapai kurang meneliti masa lalu dari seorang calon co-pilot. Pada akhirnya, penumpanglah yang menjadi korban ketidakprofesionalan maskapai.
2.        Saran
            Maskapai penerbangan seharusnya lebih ketat dalam perekrutan pilot. Selain melihat dari sisi akademis, maskapai juga harus memperhatikan sisi psikologis calon pilot. Walaupun sisi psikologis seseorang sering kali terhalang oleh berbagai prestasi akademis, tapi maskapai dapat melihat itu dari sejarah kesehatan mentalnya. Seperti pernah tidaknya dia mengalami gangguan psikologis atau tidak, pernah atau tidaknya mendatangi psikiatri, atau dari catatan kesehatan mentalnya. Sisi psikologis tersebut dapat terlihat dari hasil tes, dianjurkan lebih dari satu yang mencakup berbagai jenis tes, yang dapat melihat kelebihan, kekurangan, bahkan penyakit psikologis yang diderita calon pilot.
            Selain dari sisi maskapai, perubahan juga seharusnya disadari oleh para calon pilot. Para calon pilot seharusnya menyadari bahwa profesi yang dipilihnya merupakan profesi dengan tanggungjawab yang sangat besar, terutama untuk menjaga nyawa penumpang saat berada di dalam pesawat. Calon pilot seharusnya lebih introspeksi diri pada kekurangan pribadi masing-masing. Bila dirasa tidak memenuhi kriteria dan persyaratan dasar sebagai pilot, lebih baik untuk tidak melanjutkan profesi tersebut dan memilih profesi lain dengan tingkat yang lebih rendah pada urusan nyawa penumpang.



Daftar Pustaka
Nevid, Jeffrey, dkk. 2003. Psikologi Abnormal edisi lima jilid 1. Jakarta: Penerbit Erlangga
                    
                                                                                                                  

It's hard to live with somebody's failure.
Everybody want to teach us about their mistakes that disturbing they whole life. They don't want us to feel what they feel before. Is their failure same with us? The answer is NO!
But you know what? We'll never know it's a mistake before we got by our selves. Something that more than half people don't understand. They always think that if i could be wrong, and you'll be wrong too.
Hellooooo? We have the different life, different friends, different people around us. Never judge anything about what we will be tomorrow. Never judge anything about "if he did like this, he'll be like that!". Because you'll never know what tomorrow will bring us.

Psikoterapi : Psikologi Klinis dalam Internet

Psikoterapi berasal dari 2 kata yaitu “Psyche” yang artinya jiwa, dan “Therapy” yang artinya penyembuhan. Terapis adalah, adalah orang yang melakukan psikoterapis, dan klien adalah orang yang berkonsultasi tentang masalahnya kepada terapis. Jadi psikoterapi adalah, usaha penyembuhan untuk masalah yang berkaitan dengan pikiran, perasaan, kejiwaan, mental dan perilaku seorang terapis kepada klien yang bermasalah atau berada dalam situasi kejiwaan yang tidak sama dengan kejiwaan seseorang dalam keadaan normal. Psikoterapi merupakan proses interaksi formal dua pihak antara terapis dengan klien yang bertujuan untuk memperbaiki keadaan yang tidak menyenangkan pada satu klien. Terapis membantu klien menimalisir masalahnya dengan memberikan masukan-masuk atau sugesti-sugesti positif pada klien. Pada dasarnya setiap individu memiliki kemungkinan untuk dapat dipengaruhi melalui intervensi psikologi yang direncanakan.
Belakangan ini sangat tidak asing lagi melakukan psikoterapi via internet atau via online. Dimana internet menjadi media penghubung terjadinya komunikasi antara si terapis dengan klien. Biasanya orang yang melakukan psikoterapi online ini adalah orang yang cenderung malu untuk menceritakan masalahnya secara langsung kepada orang lain. Lalu, bisakah dunia psikologi memberikan dampak yang lebih besar lagi bagi masyarakat dengan memanfaatkan perkembangan internet, membuat mental seseorang lebih sehat tanpa ia harus meninggalkan rumah? Secara umum, penggunaan internet saat ini sudah sangat luas fungsi dan pemakainya, baik di negara maju maupun di negara berkembang. Data dari World Bank menyebutkan bahwa penggunaan internet dalam kehidupan sehari-hari di negara berkembang terus meningkat setiap tahunnya dari 5,7% di tahun 2004 hingga 26,5% di tahun 2012.

Kenyataannya, fungsi internet sebagai sarana mencari pertolongan saat menghadapi masalah psikologis juga semakin marak berkembang. Banyak ODMK (orang dengan masalah kejiwaan), termasuk orang dengan depresi yang melakukan hal tersebut. Depresi sendiri adalah sebuah kondisi gangguan psikologis yang ditandai dengan perasaan sedih atau kekosongan mendalam, seolah merasa terperosok ke dalam lubang yang gelap dan sulit untuk keluar. Penelitian menunjukkan bahwa setiap orang akan atau pernah mengalami depresi di suatu masa dalam hidupnya, dan itu merupakan hal yang wajar. Namun perlu diperhatikan bahwa depresi bisa bersifat ringan, sedang, hingga berat, dan penanganan yang diberikan perlu disesuaikan dengan tingkat depresi yang dialami.

Nah, fenomena penggunaan internet oleh orang-orang dengan depresi ini dapat dijelaskan oleh fakta bahwa orang yang sedang depresi biasanya menjadi kurang bersemangat beraktivitas, enggan keluar rumah dan menemui orang lain. Namun, perlu diingat bahwa gejala tersebut tidak serta merta membuat mereka sama sekali tidak termotivasi untuk memperbaiki kondisi mereka! Walaupun seringkali sangat kecil, motivasi itu tetap ada dan itulah yang mendorong mereka untuk mencari pertolongan melalui internet karena mereka dapat melakukannya seorang diri, tanpa perlu diketahui oleh orang lain.

Sebuah penelitian menarik mengenai rekomendasi masyarakat terkait cara menghadapi depresi yang diadakan pada tahun 2011 di Vienna, Austria, menunjukkan bahwa 48,4% dari total sekitar 500 responden melakukan dan menyarankan orang lain untuk mencari informasi seputar depresi dari internet. Sementara itu, 39,8% melakukan dan menyarankan orang lain untuk mencari forum online untuk berkomunikasi dengan sesama pengidap depresi. Fakta ini sangat menarik, karena walaupun 94% responden memilih untuk mencari dukungan dari orang terdekat secara langsung, tetapi terlihat pula bahwa internet sudah menjadi salah satu sarana yang dapat diandalkan untuk mencari pertolongan ketika menghadapi depresi.

Indonesia pun tentu tidak terlepas dari perkembangan penggunaan internet untuk pertolongan depresi ini. Melalui social media facebook misalnya, dapat ditemukan dengan mudah grup-grup yang sengaja dibuat untuk mempertemukan orang-orang yang mengidap gangguan mood, termasuk depresi, dan di sana, mereka dapat saling berbagi cerita satu sama lain. Tidak jarang juga ada psikolog atau psikiater yang aktif terlibat dalam diskusi. Salah satu contoh grup tersebut bernama Bipolar Center Indonesia yang sudah memiliki lebih dari 1.000 anggota di Facebook. Komunitas “Bipolar Center Indonesia” ini juga seringkali mengadakan kegiatan tatap muka, namun tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan grup Facebook tersebut membawa banyak manfaat bagi para anggotanya.

Sebagai tambahan, pengalaman penulis menunjukkan bahwa banyak orang yang mengirim email ke email pribadi penulis untuk berkonsultasi seputar depresi yang mereka alami. Banyak dari mereka mengaku enggan pergi ke psikolog/ psikiater karena berbagai alasan, tetapi termotivasi untuk mencari pertolongan via internet.

Di negara-negara maju, seperti Inggris, Australia, Swedia, dan Belanda, penggunaan internet untuk penanganan psikologis yang terstruktur sudah marak dilakukan. Banyak psikolog di negara-negara tersebut mengembangkan website berisi terapi psikologis dengan sasaran para pengidap depresi dan berbagai gangguan psikologis lainnya (lihat :www.moodgym.anu.edu.au untuk salah satu contoh terapi psikologis untuk depresi via website berbahasa Inggris). Sejak tahun 2010, sekelompok peneliti dari Eropa di bidang psikologi klinis bahkan sudah menemukan bahwa perilaku mencari pertolongan psikologis melalui internet dan melalui website terapi psikologis memiliki efektivitas yang setara dengan pertemuan tatap muka dengan psikolog.

Terapi online kini bisa membantu pasien dan membuat jarak menjadi dekat serta yang enggan menjadi mau. Ini menarik untuk pasien yang malu dicap sebagai terganggu jiwanya jika duduk di antrian ke psikiater.

Sebuah penelitian oleh University of Zurich di Swiss dan University of Leipzig di Jerman dan terbit di Journal of Affective Disorders menemukan bahwa psikoterapi lewat internet sama efektifnya dengan psikoterapi langsung. Menurut peneliti, mereka telah mencoba perawatan depresi secara online yang menggunakan metode dan perawatan psikatri yang sama dengan yang dilakukan jika bertatap muka langsung.

Dari penelitian, sebanyak 62 pasien dengan depresi menerima terapi kognitif perilaku dalam jangka waktu dua bulan. Setengah dari pasien mendapatkan waktu tatap muka seminggu sekali selama satu jam dengan psikiater dan sisanya menerima perawatan lewat internet yang terdiri dari menulis tugas dan feedback dari terapis (tanpa interaksi video chatting).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perubahan yang berbeda dari hasil terapi dengan dua cara yang berbeda ini. Depresi menghilang pada 50% pasien yang langsung bertatap muka dan 53% dari mereka yang dirawat lewat dunia maya.

Setelah tiga bulan, penelitian lanjutan menunjukkan bahwa efek perawatan online ternyata lebih tahan lama dimana pasien yang mendapatkannya sebanyak 57% merasa hidupnya lebih maju dan pasien yang bertatap muka hanya 42% saja yang merasa ada perkembangan signifikan.

Para ahli berpendapat bahwa terapi lewat internet yang lebih menekankan kemandirian menjadi salah satu faktornya. Walau begitu, karena online dan anonim, pasien bisa dengan mudah keluar dari program sehingga cukup sulit untuk memantau lebih lanjut bagi mereka yang keluar begitu saja. (PopularScience)
Cara seperti ini mempermudah konsultasi. Karena memiliki beberapa keuntungan seperti :

1.Masalah lokasi, misalnya lokasi penyedia layanan kesehatan mental terlalu jauh atau sulit terjangkau. Bisa juga karena klien sering bepergian dan jarang menetap di suatu lokasi, jadi sulit baginya mengunjungi satu lokasi layanan kesehatan mental secara rutin.

2.Klien sulit menyesuaikan waktu dengan jadwal praktek psikolog/ psikiater yang biasanya hanya tersedia pada jam kerja.

3.Biaya konsultasi dengan psikolog/ psikiater yang terbilang mahal untuk klien-klien dengan latar belakang sosial ekonomi tertentu. Hal ini mendorong klien untuk mencari pertolongan lewat jalan lain terlebih dahulu yang lebih ekonomis, salah satunya melalui internet.

4.Klien merasa terdorong dan percaya bahwa dirinya dapat berperan mandiri dalam mengenali dan menghadapi masalah kesehatan mental, dalam hal ini depresi, yang sedang ia hadapi.

5.Klien yang memiliki motivasi tinggi untuk menyelesaikan masalah yang sedang ia hadapi merasa cocok dengan gaya mencari pertolongan via internet karena ia akan banyak mengandalkan dirinya sendiri selama proses konsultasi atau terapi psikologis.

6.Banyak sekali klien yang sudah cakap dengan penggunaan internet dan gadget, sehingga mudah bagi mereka untuk mencari informasi terkait masalah psikologis yang mereka alami melalui internet. Sekalipun klien memiliki kesulitan, ia dapat dibantu oleh orang terdekat di rumah untuk menggunakan internet.

7.Banyak pengidap gangguan psikologis, termasuk pengidap depresi, menyatakan bahwa mencari pertolongan di internet secara umum dapat lebih membebaskan mereka dari stigma bahwa mereka memiliki gangguan jiwa daripada jika mereka pergi menemui psikolog atau pergi ke rumah sakit jiwa.
Selain itu biasanya orang yang melakukan psikoterapi ini pada titik awal masalahnya biasanya memberi keuntungan seperti dapat menghapus, mengubah, dan menghambat gejala lebih lanjut. Selain itu juga meningkatkan pertumbuhan kepribadian yang positif.

Namun dibalik beberapa keuntungan tersebut juga terdapat keterbatasan dalam psikoterapi online ini, seperti :
1. Sang terapis kurang tahu lebih tentang kondisi pasien, karena sang terapis tidak mengetahui bahasa tubuh klien, karena selain mendengarkan cerita klien secara langsung, terapis juga harus melihat bahasa tubuh klien.

2. Hasilnya kurang akurat karena tidak terjadinya komunikasi secara langsung.

Ada beberapa contoh aplikasi psikoterapi online ini, yaitu :
1. ELIZA, sebuah program perangkat lunak yang ditulis oleh Joseph Weizenbaum pada 1960 untuk meniru komunikasi seorang terapis. Ini adalah contoh pertama dari computer dimediasi interaksi menggunakan bentuk yang sangat sederhana dari psikoterapi.

2. E-Terapi, adalah sebuah modalitas psikoterapi baru yang menyediakan akses kepada klien untuk berkonsultasi dengan seorang terapis yang professional dalam kesehatan mental secara online. Terapi ini juga sering dilakukan melaui komunikasi lewat email dengan terapis, hal ini juga dapat termasuk chat dan konferensi melalui video call, meskipun cara ini kurang sering digunakan.

Referensi :
http://carneliaputri.wordpress.com/2014/01/01/psikoterapi-psikologi-klinis-dalam-internet-3/
http://raisamatarinursila.blogspot.com/2013/12/psikologi-dan-teknologi-internet-pokok_8933.html
http://www.psikoterapis.com/?en_apa-itu-psikoterapi-,6
http://belajarpsikolgi.com/sebuah-pengantar-psikoterapi/
http://ruangpsikologi.com/kesehatan/internet-kini-dan-nanti-pertolongan-pertama-saat-depresi/#ixzz3OKORDB8o
http://intisari-online.com/mobile/read/terapi-lewat-dunia-maya-ternyata-efektif


TABEL KINERJA


NPM


NAMA


KERJA


11513981


Damar Surya


Mencari Materi Tentang
Keterbatasan Psikoterapi Online


14513212


Iga Puspitasari


Mencari Materi Tentang Keterbatasan
Psikoterapi Online


16513997


Putri Andriani


Mencari Materi Tentang
Keterbatasan Psikoterapi Online


17513644


Riesa Callista


Mencari Materi Tentang
Keterbatasan Psikoterapi Online


19513085


Valinka Isabella Putri Korompis


Menyusun dan Mengedit Materi


19513515


Yosua Rulianto


Membuat Tabel Kinerja

Popular Post

Coming Soon

Coming Soon

Cari Blog Ini