Manusia dan Tanggung Jawab



Manusia dan Tanggung Jawab

1.      Pengertian Tanggung Jawab
Tanggung jawab adalah menanggung atau memikul sesuatu beserta akibatnya. Tanggung jawab juga merupakan perwujudan dari kesadaran terhadap kewajibannya. Setiap orang mempunyai tanggung jawabnya masing-masing sesuai perannya. Mahasiswa mempunyai tanggung jawab dalam kuliahnya, seorang ibu bertanggung jawab terhadap rumah tangganya, dan contoh-contoh lainnya.
Tanggung jawab adalah sikap yang menunjukan seseorang beradab. Seseorang yang bertanggung jawab akan sepenuhnya menyadari apa yang diharapkan lingkungan kepada dirinya dan dia menjalankan tanggung jawab tersebut atas dasar mengerti terhadap tugasnya.
2.      Macam-macam Tanggung Jawab
a.       Tanggung jawab terhadap diri sendiri
Tanggung jawab terhadap diri sendiri berarti melakukan segala kewajiban yang ditujukan kepada diri sendiri. Kita yang bertanggung jawab terhadap apa yang kita sendiri lakukan.
b.      Tanggung jawab terhadap keluarga
Tanggung jawab ini terlaksana bila apa yang keluarga harapkan kepada kita sebagai sebuah kewajiban, benar-benar dilakukan.
c.       Tanggung jawab terhadap masyarakat
Kita bukan hanya sekedar hidup di tengah masyarakat, tapi juga memiliki kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan, seperti tanggung jawab untuk menjaga keamanan dan kerukunan bersama.
d.      Tanggung jawab kepada bangsa / negara
Tanggung jawab terhadap negara sangat luas cakupannya. Namun tanggung jawab utama kita terhadap negara adalah mengikuti peraturan-peraturan yang telah dimiliki negara. Lebih lanjut, memberikan kebanggaan bagi bangsa adalah tanggung jawab yang ditanggung semua warga negara.



e.       Tanggung jawab terhadap Tuhan
Tanggung jawab terhadap Tuhan berkaitan dengan amalan-amalan yang dilakukan manusia selama hidup di dunia. Beribadah adalah cara yang paling  menunjukan tanggung jawab kita karena telah diberikan kesempatan untuk hidup di dunia.
3.      Pengabdian dan Pengorbanan
a.       Pengabdian
Pengabdian berarti mencurahkan pikiran dan tenaga terhadap sesuatu yang dianggap penting. Pengabdian juga didasari dengan rasa tanggung jawab yang besar.
b.      Pengorbanan
Pengorbanan berarti mempersambahkan apapun yang dimilikinya untuk sesuatu. Sesuatu ini adalah hal yang dipegang tanggung jawabnya. Ketulusanlah yang mampu membuat pengorbanan menjadi begitu bernilai dimata orang lain.

















Sumber: Ilmu Budaya Dasar seri diktat kuliah, diterbitkan oleh Gunadarma

Manusia dan Pandangan Hidup



Manusia dan Pandangan Hidup

1.      Pengertian Pandangan Hidup dan Ideologi
Pandangan hidup adalah pendapat atau pertimbangan terhadap tujuan dari hidup kita yang dibentuk dari pengalaman hidup masing-masing orang. Pandangan hidup beersifat kodrati, karena semua orang pasti memilikinya. Tapi pandangan hidup setiap orang akan berbeda-beda tergantung dari waktu dan tempatnya saat melakukan proses mengerti pandangan hidup pribadinya.
Pandangan hidup yang diterima oleh sekelompok orang dalam sebuah organisasi disebut ideologi. Ideologi mencakup tujuan hidup dari seluruh anggota kelompoknya, karena tujuan dari anggota-anggota dari sebuah kelompok akan sama.
Pandangan hidup akan menentukan apa yang ingin dicapai dalam hidup seseorang atau kelompok. Oleh karena itu, pandangan hidup berkaitan erat dengan cita-cita, yaitu hal yang ingin diwujudkan dan dicapai dalam proses perjalanan hidup ini.
2.      Cita-cita
Cita-cita adalah keinginan, harapan, tujuan yang selalu ada dalam diri seseorang. Tingkatan cita-cita setiap orang berbeda-beda. Semakin tinggi cita-cita yang dimiliki seseorang, maka semakin terpacu dan berusaha semakin keras untuk mencapainya. Terdapat tiga faktor yang menentukan sampainya masa sekarang yang berupa realita kepada cita-cita yang belum pasti, yaitu:
a.       Faktor manusia
Faktor ini didasari dengan sejauh apa motivasi seseorang dapat membawa orang tersebut pada tercapainya cita-cita. Semua orang dapat memiliki cita-cita, namun tidak semua memiliki kemauan dan kemampuan yang mumpuni untuk mencapai cita-citanya itu. Dukungan dari orang sekitar juga sangat berpengaruh pada faktor ini.
b.      Faktor kondisi
Kondisi di sini berarti hal-hal yang menguntungkan dan menghambat proses menuju tercapainya cita-cita tersebut. Kondisi ekonomi dan kesehatan yang biasanya dapat menghambat. Namun kondisi ini bisa dicarikan jalan keluarnya bila faktor manusianya sudah baik.
c.       Faktor tingginya cita-cita
Dalam hal ini, semakin tinggi cita-cita maka semakin sulit dicapai. Tapi hal tersebut dapat disanggah. Kembali pada faktor manusianya. Sejauh apa motivasi yang dimilikinya. Semakin besar motivasi dan keinginan yang dia miliki, maka semakin besar pula peluang untuk mencapai cita-cita yang sangat tinggi.
3.      Kebajikan
Kebajikan atau kebaikan adalah perbuatan terpuji yang mendatangkan kebaikan bagi banyak orang. Manusia dilahirkan baik seperti kertas putih yang bersih dan suci. Tapi pada perjalanannya, banyak faktor yang menentukan coretan apa yang akan digoreskan pada kertas putih tersebut yang menunjukan stimulus yang seperti apakah yang akan mengisi hidup seseorang. Stimulus yang baik akan menghasilkan perbuatan yang baik dan stimulus yang tidak baik akan menghasilkan perbuatan yang tidak baik pula.
Terdapat tiga faktor yang menentukan seseorang melakukan perbuatan baik atau buruk, yaitu:
a.       Faktor pembawaan (heriditas)
b.      Faktor lingkungan
c.       Faktor pengalaman
4.      Usaha / Perjuangan
Untuk mencapai sebuah keinginan maka perlulah melakukan usaha dan perjuangan. Perjuangan dapat berupa kerja keras untuk melewati proses untuk memantaskan kita mencapai sebuah tujuan yang tinggi. Cita-cita yang tinggi memerlukan perjuangan yang hebat. Karena perjuangan yang hebat itulah yang akan membawa kita pada pencapaian cita-cita yang hakiki, bukan dari cara-cara instan.
Usaha dapat berupa fisik, mental, dan doa. Ketiganya sangat berpengaruh dalam pencapaian sebuah tujuan.
Semakin besar perjuangan yang ditempuh dalam proses pencapaian cita-cita, maka semakin besar kenikmatannya saat mencapai keinginan tersebut. Saat ini banyak orang yang lebih memilih usaha yang instan bahkan melanggar norma untuk mencapai tujuan pribadinya. Padahal proses yang seperti itu akan mengantarkan pada kesuksesan yang hanya sementara atau berujung pada hal yang tidak baik. Menikmati sebuah proses sebagai sebuah perjuangan adalah cara terbaik untuk mencapai sebuah cita-cita.
5.      Keyakinan atau Kepercayaan
Terdapat tiga aliran kepercayaan menurut Prof. Dr. Harun Nasution, yaitu:
a.       Aliran naturalisme
Aliran ini berasal dari kekuatan gaib yang berjalan secara natural atau alamiah. Aliran ada yang memercayai Tuhan dan ada yang tidak.
b.      Aliran intelektualisme
Aliran ini menitikberatkan pada logika atau akal manusia. Aliran ini hanya berpegangan pada rasional manusia yang sebenarnya terbatas.
c.       Aliran gabungan
Aliran ini menggabungkan antara naturalisme dan intelektualisme.
Keyakinan atau kepercayaan bersifat subjektif. Setiap individu dapat berpandangan sama atau berbeda.
6.      Langkah-langkah Berpandangan Hidup yang Baik
Terdapat enam langkah untuk mencapai pandangan hidup yang baik, yaitu:
a.       Mengenal
Mengenal adalah proses paling awal dalam mengetahui pandangan hidup. Bukan hanya pandangan hidup, tapi setiap proses yang akan dilalui pasti perlu adanya pengenalan.
b.      Mengerti
Setelah mengenal, menegerti adalah langkah berikutnya. Mengenal belum tentu mengerti, tapi mengerti sudah pasti mengenal. Mengerti merupakan langkah mendalami sesuatu. Sesuatu disini adalah tujuan yang ingin dicapai dan cara mencapainya.
c.       Menghayati
Menghayati membuat segala yang ada pada diri kita mengarah pada pandangan hidup tertentu. Pandangan hidup yang dihayati haruslah baik seperti langkah-langkah sebelum dan sesudahnya agar yang dicapainya juga baik.
d.      Meyakini
Langkah selanjutnya adalah meyakini. Setelah benar-benar memahami arah dan apa yang akan dilakukan, selanjutnya adalah meyakini. Meyakini berkaitan dengan keteguhan yang sepenuh hati.


e.       Mengabdi
Mengabdi adalah langkah konkret dari semua langkah. Mengabdi berkaitan dengan hal-hal yang nyata dilakukan.
f.       Mengamankan
Setelah semua langkah berjalan, maka langkah terakhir adalah mengamankan. Mengamankan berarti menjaga langkah yang sudah dilakukan sebelumnya agar terus terjaga dan terus berlaku pada jangka yang relatif panjang.






















Sumber: Ilmu Budaya Dasar seri diktat kuliah, diterbitkan oleh Gunadarma

Manusia dan Keadilan



Manusia dan Keadilan

1.      Pengertian Keadilan
Pendapat yang umum mengatakan bahwa keadilan adalah pengakuan dan perlakuan yang seimbang antara hak dan kewajiban. Kita dituntut untuk melakukan apa yang seharusnya kita lakukan, bukan hanya meminta apa yang seharusnya kita dapatkan. Keadilan sangat berkaitan erat dengan keseimbangan antara dua hal yang sama-sama penting dan tidak dapat dipisahkan salah satunya.
2.      Keadilan Sosial
Keadilan sosial sudah tertuang di dalam cita-cita bangsa Indonesia yang dimuat dalam Pancasila sila ke lima yang berbunyi “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Hal ini menunjukan keinginan para pejuang kemerdekaan yang menjadi cerminan keinginan seluruh rakyat Indonesia, bahwa negara ini harus tercipta dengan rasa adil yang sebesar-besarnya bagi seluruh komponen Negara.
Selain di dalam Pancasila, keadilan juga dijelaskan dalam peraturan-peraturan lainnya yang memaparkan pentingnya kesamaan derajat seluruh rakyat di mata hokum dan juga adanya keseimbangan antara hak dan kewajiban. Keadilan sosial inilah yang saat ini menjadi masalah dalam mengisi kemerdekaan di Indonesia. Banyaknya diskriminasi dan cacatnya hukum dituding sebagai faktor utamanya.
3.      Berbagai Macam Keadilan
a.       Keadilan legal atau keadilan moral
Keadilan legal atau keadilan moral diartikan sebagai kesesuaian peran dengan fungsi yang dijalankannya. Ketidakadilan adalah bila adanya campur tangan dari peran lain yang bukan fungsinya.
b.      Keadilan distributif
Yang dimaksud dengan keadilan distributif adalah keadilan yang berdasarkan atas porsinya masing-masing yang sesuai.
c.       Keadilan komutatif
Keadilan ini bertujuan untuk memelihara keteriban dan kesejahteraan banyak pihak yang terkait.
4.      Kejujuran
Kejujuran adalah perilaku yang menunjukan perkataan yang sebenar-benarnya terjadi dan tidak mengada-ngada. Orang yang jujur akan memiliki hati yang bersih karena kejujuran akan membuat mereka takut bila melakukan hal-hal yang tidak baik.
Kejujuran dilandasi oleh rasa kesadaran dalam diri seseorang dan bukan karena paksaan. Bila seseorang telah terbiasa tidak jujur, maka sepanjang hidupnya akan terus berusaha menutupi ketidakjujuran tersebut. Ketidakjujuran akan menimbulkan perilaku buruk yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Oleh karena itu, kejujuran berkaitan erat dengan faktor hati nurani. Hati nurani yang bersih akan melahirkan kejujuran, begitu pula sebaliknya.
5.      Kecurangan
Kecurangan sangat berhubungan dengan ketidakjujuran seseorang. Orang yang curang, sudah pasti akan melakukannya tanpa kejujuran. Curang dikarenakan oleh keinginan yang belum terpenuhi dan ingin memenuhinya dengan apapun cara yang ditempuhnya. Biasanya cara itu dengan kelicikan.
Kecurangan disebabkan oleh berbagai macam sebab. Bukan hanya karena keinginan yang tidak terwujud dan ingin mewujudkannya dengan cara apapun, tetapi juga bisa karena ingin memenuhi kepuasan diri terhadap sesuatu. Alasan seperti ini sering ditemukan dan bisa saja yang melakukannya menderita gangguan kejiwaan.
6.      Perhitungan (HISAB) dan Pembalasan
Perhitungan dan pembalasan akan dilakukan sesuai dengan apa yang telah kita lakukan. Yang sering melakukan kejahatan dengan berbuat curang, bohong, dan merugikan orang lain suatu saat akan mendapat balasannya. Balasan tersebut akan didapat di dunia maupun di akhirat. Balasan yang didapat di dunia biasanya berupa sanksi sosial berupa cemoohan. Masyarakat sosial pun mencemooh karena didasari suatu perhitungan yang menyebabkan perilaku tersebut tidak bisa lagi ditoleransi dalam kehidupan sosial.
Di akhirat segala amal kita akan dihitung dan dibalas sesuai apa yang telah kita lakukan di dunia. Kebanyakan orang tidak percaya dengan adanya akhirat yang menyebabkan mereka tidak takut untuk berbuat kesalahan di dunia. Mereka lebih condong takut terhadap sanksi sosial yang langsung dirasakan saat itu juga, karena pembalasan di akhirat yang hanya terjadi setelah manusia meninggal dan tidak bisa lagi bertaubat.

7.      Pemulihan Nama Baik
Nama baik berkaitan erat dengan moral seseorang. Nama seseorang akan dipandang baik bila moralnya juga baik dan tidak melakukan perbuatan yang tercela. Karena manusia adalah makhluk bermoral, segala sesuatu yang berkaitan dengan perilaku seseorang akan mempengaruhi penilaian terhadap orang tersebut.
Pemulihan nama baik dilakukan atas dasar pembersihan nilai diri di mata orang lain. Biasanya nama baik dipulihkan karena telah terkotori oleh perbuatan yang tidak bisa diterima di masyarakat. Namun, sering juga terdapat nama baik yang sengaja dibuat jelek oleh segelintir karena dendam pribadi. Biasanya dendam tersebut akan memicu terjadinya fitnah untuk menjatuhkan nama baik seseorang. Kalau sudah begitu, nama baik si pefitnah pun akan jadi taruhannya karena apabila terbukti memfitnah, korban yang difitnah otomatis pulih nama baiknya dan si pefitnah yang citra nama baiknya akan menjadi buruk.
8.      Pembalasan
Seperti pada subbab sebelumnya, pembalasan terjadi akibat perilaku yang sudah dibuat sebelumnya dan pembalasan sebagai hasil dari perbuatan tersebut. Pembalasan dilakukan di dunia maupun di akhirat. Pembalasan di akhirat akan dilakukan oleh Tuhan. Namun, Tuhan tidak akan membalas perbuatan kaumnya hanya di akhirat saja. Tuhan juga akan menimpakan balasannya kepada umat manusia di dunia dengan cara memberikan azab. Azab ini berfungsi untuk mengingatkan manusia atas kesalahan yang telah dibuatnya dan diberi kesempatan untuk bertaubat. Jika tetap saja tidak bertaubat, maka pembalasan di akhirat akan sampai kepadanya pada waktunya kelak.








Sumber: Ilmu Budaya Dasar seri diktat kuliah, diterbitkan oleh Gunadarma

Popular Post

Coming Soon

Coming Soon

Cari Blog Ini