Manusia
dan Keadilan
1.
Pengertian Keadilan
Pendapat yang umum
mengatakan bahwa keadilan adalah pengakuan dan perlakuan yang seimbang antara
hak dan kewajiban. Kita dituntut untuk melakukan apa yang seharusnya kita
lakukan, bukan hanya meminta apa yang seharusnya kita dapatkan. Keadilan sangat
berkaitan erat dengan keseimbangan antara dua hal yang sama-sama penting dan
tidak dapat dipisahkan salah satunya.
2. Keadilan
Sosial
Keadilan sosial sudah
tertuang di dalam cita-cita bangsa Indonesia yang dimuat dalam Pancasila sila
ke lima yang berbunyi “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Hal ini
menunjukan keinginan para pejuang kemerdekaan yang menjadi cerminan keinginan
seluruh rakyat Indonesia, bahwa negara ini harus tercipta dengan rasa adil yang
sebesar-besarnya bagi seluruh komponen Negara.
Selain di dalam
Pancasila, keadilan juga dijelaskan dalam peraturan-peraturan lainnya yang
memaparkan pentingnya kesamaan derajat seluruh rakyat di mata hokum dan juga
adanya keseimbangan antara hak dan kewajiban. Keadilan sosial inilah yang saat
ini menjadi masalah dalam mengisi kemerdekaan di Indonesia. Banyaknya
diskriminasi dan cacatnya hukum dituding sebagai faktor utamanya.
3. Berbagai
Macam Keadilan
a. Keadilan
legal atau keadilan moral
Keadilan legal atau keadilan moral
diartikan sebagai kesesuaian peran dengan fungsi yang dijalankannya.
Ketidakadilan adalah bila adanya campur tangan dari peran lain yang bukan
fungsinya.
b. Keadilan
distributif
Yang dimaksud dengan keadilan
distributif adalah keadilan yang berdasarkan atas porsinya masing-masing yang
sesuai.
c. Keadilan
komutatif
Keadilan ini bertujuan untuk memelihara
keteriban dan kesejahteraan banyak pihak yang terkait.
4. Kejujuran
Kejujuran
adalah perilaku yang menunjukan perkataan yang sebenar-benarnya terjadi dan tidak
mengada-ngada. Orang yang jujur akan memiliki hati yang bersih karena kejujuran
akan membuat mereka takut bila melakukan hal-hal yang tidak baik.
Kejujuran
dilandasi oleh rasa kesadaran dalam diri seseorang dan bukan karena paksaan.
Bila seseorang telah terbiasa tidak jujur, maka sepanjang hidupnya akan terus
berusaha menutupi ketidakjujuran tersebut. Ketidakjujuran akan menimbulkan
perilaku buruk yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Oleh karena
itu, kejujuran berkaitan erat dengan faktor hati nurani. Hati nurani yang
bersih akan melahirkan kejujuran, begitu pula sebaliknya.
5. Kecurangan
Kecurangan sangat berhubungan
dengan ketidakjujuran seseorang. Orang yang curang, sudah pasti akan
melakukannya tanpa kejujuran. Curang dikarenakan oleh keinginan yang belum
terpenuhi dan ingin memenuhinya dengan apapun cara yang ditempuhnya. Biasanya
cara itu dengan kelicikan.
Kecurangan disebabkan oleh berbagai
macam sebab. Bukan hanya karena keinginan yang tidak terwujud dan ingin
mewujudkannya dengan cara apapun, tetapi juga bisa karena ingin memenuhi
kepuasan diri terhadap sesuatu. Alasan seperti ini sering ditemukan dan bisa
saja yang melakukannya menderita gangguan kejiwaan.
6. Perhitungan
(HISAB) dan Pembalasan
Perhitungan dan pembalasan akan
dilakukan sesuai dengan apa yang telah kita lakukan. Yang sering melakukan
kejahatan dengan berbuat curang, bohong, dan merugikan orang lain suatu saat
akan mendapat balasannya. Balasan tersebut akan didapat di dunia maupun di
akhirat. Balasan yang didapat di dunia biasanya berupa sanksi sosial berupa
cemoohan. Masyarakat sosial pun mencemooh karena didasari suatu perhitungan
yang menyebabkan perilaku tersebut tidak bisa lagi ditoleransi dalam kehidupan
sosial.
Di akhirat segala amal kita akan
dihitung dan dibalas sesuai apa yang telah kita lakukan di dunia. Kebanyakan
orang tidak percaya dengan adanya akhirat yang menyebabkan mereka tidak takut
untuk berbuat kesalahan di dunia. Mereka lebih condong takut terhadap sanksi
sosial yang langsung dirasakan saat itu juga, karena pembalasan di akhirat yang
hanya terjadi setelah manusia meninggal dan tidak bisa lagi bertaubat.
7. Pemulihan
Nama Baik
Nama baik berkaitan erat dengan
moral seseorang. Nama seseorang akan dipandang baik bila moralnya juga baik dan
tidak melakukan perbuatan yang tercela. Karena manusia adalah makhluk bermoral,
segala sesuatu yang berkaitan dengan perilaku seseorang akan mempengaruhi
penilaian terhadap orang tersebut.
Pemulihan nama baik dilakukan atas
dasar pembersihan nilai diri di mata orang lain. Biasanya nama baik dipulihkan
karena telah terkotori oleh perbuatan yang tidak bisa diterima di masyarakat.
Namun, sering juga terdapat nama baik yang sengaja dibuat jelek oleh segelintir
karena dendam pribadi. Biasanya dendam tersebut akan memicu terjadinya fitnah
untuk menjatuhkan nama baik seseorang. Kalau sudah begitu, nama baik si
pefitnah pun akan jadi taruhannya karena apabila terbukti memfitnah, korban
yang difitnah otomatis pulih nama baiknya dan si pefitnah yang citra nama
baiknya akan menjadi buruk.
8. Pembalasan
Seperti pada subbab sebelumnya,
pembalasan terjadi akibat perilaku yang sudah dibuat sebelumnya dan pembalasan
sebagai hasil dari perbuatan tersebut. Pembalasan dilakukan di dunia maupun di
akhirat. Pembalasan di akhirat akan dilakukan oleh Tuhan. Namun, Tuhan tidak
akan membalas perbuatan kaumnya hanya di akhirat saja. Tuhan juga akan
menimpakan balasannya kepada umat manusia di dunia dengan cara memberikan azab.
Azab ini berfungsi untuk mengingatkan manusia atas kesalahan yang telah dibuatnya
dan diberi kesempatan untuk bertaubat. Jika tetap saja tidak bertaubat, maka
pembalasan di akhirat akan sampai kepadanya pada waktunya kelak.
Sumber:
Ilmu Budaya Dasar seri diktat kuliah, diterbitkan oleh Gunadarma

